Langsung ke konten utama

Aku menyayanginya Tuhan...

Detik detik menjelang kepergianku kebandara, gerimis telah menjelma menjadi hujan yang begitu deras dan sedikit menghambat kepergianku untuk menimba ilmu ditimur tengah, walau tekadku sudah sangat bulat bahkan tak ada satu pun yang dapat menghalangi niatku untuk mencari ilmu
dinegri perantauan tersebut.
Seketika, lamunanku tentang bayangan negri timur tengah yang begitu eksotis dengan icon padang pasir yang tandus membuyar tatkala nenek yang paling aku sayangi memintaku untuk membatalkan rencana kepergianku dengan berbagai alasan, karena aku seorang perempuan yang hendak nya tak usah pergi jauh-jauh dari keluarga, dan karena nenek yang benar-benar menyayangiku dan ingin selalu melihatku tumbuh dewasa disampingnya.
Ku pandangi wajah nenek dan ku berikan sedikit pengertian kepadanya bahwa aku ingin menimba ilmu agama dimana para ulama berasal, dan aku ingin meminum air yang langsung diambil dari sumber mata air nya. Dengan tatapan nanar, nenek tak dapat mencegah kepergianku yang telah begitu bulat, ia hanya berpesan : "jadilah anak yang shalihah yang selalu mendo'akan keluarga dan jangan lupa untuk selalu mendo'akan nenek karena nenek tak tahu apakah masih akan melihat nadia kelak  setelah pulang dari menimba ilmu".
Aku hanya memandang nya dengan perasaan pilu dan hati yang tersayat- sayat. Aku akan selalu mendo'akan nenek sampai dapat melihatku menjadi seorang perempuan shalehah kelak, kami pun berpelukan dengan air mata yang berlinang tanpa sepatah kata terucap.
Aku memang begitu dekat dengan nenek semenjak aku dilahirkan didunia ini, bahkan nenek yang selalu mengasuhku ketika kedua orang tua ku sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, sejak kecil sampai usia sekolah nenek selalu menjagaku bahkan sangat menyayangiku,dan  aku selalu merasa menjadi anak yang paling bahagia dengan kasih sayang orang tua dan nenek kakek yang begitu memperhatikan cucu pertamanya.
Ternyata bayangan negri senja terlalu menyilaukan penglihatanku untuk mundur dan seakan mengalahkan rasa cintaku pada keluarga. aku tetap memilih maju demi kesuksesan dimasa mendatang.
Ku putuskan untuk meninggalkan keluarga, sanak saudara, kampung halaman dan Negara tumpah darahku menuju negri pengasingan demi kata ilmu yang begitu aku dambakan.
Sesaat menjelang kepergianku, kupandangi seluruh keluarga, sanak saudara satu persatu sambil melambaikan tangan tanda perpisahan, karena dibalik tembok besar itu entah berapa tahun lagi aku akan melihat semuanya berkumpul kembali.
Ternyata keputusanku memberikan spirit yang luar biasa besar pada pisikologi kejiwaan ku dalam menerima pelajaran demi pelajaran dibangku kuliah, aku begitu bersemangat untuk mempelajari agamaku, karena dahaga yang kurasakan tak pernah sedikitpun terpuaskan ketika aku mencoba meminum air disumber air terbaik.
Walau bagaimanapun, akan kutunaikan janjiku pada keluarga untuk belajar sebaik mungkin dan pulang dengan membawa ilmu yang bermanfaat karena itulah harapanku, yaitu untuk mengabdi pada masyarakat.
Ditengah kesibukan kuliah yang luar biasa, selalu kusempatkan untuk menelfon keluarga dikampung sekedar menanyakan keadaan keluarga pasca aku tinggalkan dan menjabarkan keadaanku yang begitu bersemangat dalam belajar agar dapat segera berkumpul kembali dengan seluruh keluarga.
Kegiatanku yang begitu padat dibangku perkuliahan benar-benar telah menyita waktu dan memeras otak ku hingga hanya kegiatan kuliah yang aku fikirkan demi menggapai cita-cita ku, hingga menginjak tahun akhir, kesibukan ku bertambah dengan menulis skripsi sebagai syarat akhir kelulusan, hari-hari ku tak pernah lepas dari buku-buku yang selalu setia menemaniku.
Hingga suatu ketika, ibu menelfon ku dan mengatakan bahwa nenek mengalami serangan jantung dan harus di larikan ke icu.
Tak henti-hentinya ku panjatkan do'a dalam linangan air mata, berita duka itu telah menyita seluruh fikiranku, aku begitu khawatir dan ketakutan.
Satu minggu kemudian ibuku mengabarkan bahwa nenek telah melewati masa krisis nya setelah masuk ruang icu selama kurang lebih 5 hari, ku panjatkan syukur yang begitu dalam atas kepulihan nenekku, karena rasa rindu yang begitu memuncak akhirnya aku menelfon menggunaan video via skype dengan nenek ku yang berada ditanah sebrang, kuperhatikan wajah nenek melalui kamera yang terlihat begitu pucat dan sendu, aku tak kuasa menatap kesenduan itu, aku hanya menangis ketika nenek menasehatiku dengan panjang lebar dan ku sadari ternyata aku begitu merindukan nya, dan merindukan seluruh anggota keluargaku, itu yang membuat tekad ku bulat untuk segera menyelesaikan jenjang kuliah secepat mungkin.
Dengan membaik nya kondisi nenek, aku bisa belajar kembali menyelesaikan skripsi hingga sidang, dan mendapat nilai yang lumayan memuaskan.
Handphone ku tiba-tiba berdering dengan no telf yang asing, kuangkat dan ternyata terdengar suara ibu yang menangis di sebrang sana, hening aku menunggu ibu berbicara, lima menit kemudian ibu baru dapat mengatakan kalimat yang begitu mengiris setiap kepingan hatiku dan merobek jantungku seketika, "nenek telah meninggal siang tadi dan saat ini keluarga sedang mengurusi prosesi pemakaman nya".
Aku menangis pilu tak terbayang sebelum nya, bahwa nenek yang perlahan pulih membaik kini telah terbujur kaku tak bernyawa, ibu segera menenagkanku dan menasihatiku begitu panjang padahal hatinya pun terluka, aku begitu merasa terpukul dengan berita meninggalnya nenek yang paling aku sayangi.
Kutunaikan shalat ghaib dan mendo'akan nya dalam tangis panjangku, ku ikhlaskan dan serahkan semua nya pada sang sutradara kehidupan.
Setelah seluruh administrasi perkuliahan ku selesai di universitas ibn thofeil maroko, kuputuskan untuk segera pulang.
Memasuki rumahku dikampung seakan memutar memory tiga tahun silam, tepat ketika aku meninggalkan rumah menuju pencarian ilmu yang tak berujung, rumah ini menjadi saksi betapa aku menyayangi nenek ku yang telah tiada. Ku pandangi fhoto keluarga yang menggantung didinding dan terbersit rasa penyesalan, telah meninggalkan nya dalam kurun waktu yang lama dan kini aku tak akan pernah melihat wajah nya kembali, tapi kasih sayang nya akan selalu membekas didalam hati sanubariku.
Kupinta ayah dan ibu untuk mengantarkan ke makam nenek ku, dan disana aku berdo'a dan meminta maaf telah meninggalkan nya, tetapi sekarang aku telah kembali sebagai anak yang akan selalu mendo'akan seluruh keluarga termasuk nenek yang telah berpulang menjemput syurgaNya.
Aku merasa lega setelah menziarahi makam nenek ku dan sesuai janjiku aku ingin menjadi anak yang shalihah yang selalu mendo'akan nenek ku dalam kehidupan meuju keabadian nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hanya catatan sederhana

Beliau tak pernah absen menemani kami, memberikan ilmu-ilmu yang berguna untuk masa depan mengajari kami tata krama dan akhlak yang baik beliau adalah peribadi yang selalu terlihat sempurna dimata kita hingga kita selalu dibuat takjub dengan akhlak yang tercermin dari nya.

Negri dalam mimpiku

Dor! Dentakan suara itu membangunkan ku dri lamunan panjang apa yang sedang kamu fikirkan rio? Kok dari tadi kamu melamun terus, aku kira kamu sedang tertidur tapi ternyata kamu ga tidur kamu punya masalah? Cerita dong sama aku? Cerocos rudi

Kasih yang Sempurna

Semoga kata-kata ini dapat mewakili segenap perasaanku padamu Ibu Ayah Sulit untuk ku mengucapkan kata sayang dihadapanmu tapi yang kurasakan begitu sebaliknya ingin ku ungkapkan semua rasa sayangku padamu seperti keluh kesah yang kerap kali tumpah kala aku menceritakan berbagai masalahku