Detik detik menjelang kepergianku
kebandara, gerimis telah menjelma menjadi hujan yang begitu deras dan sedikit
menghambat kepergianku untuk menimba ilmu ditimur tengah, walau tekadku sudah
sangat bulat bahkan tak ada satu pun yang dapat menghalangi niatku untuk
mencari ilmu
dinegri perantauan tersebut.
Seketika, lamunanku tentang bayangan
negri timur tengah yang begitu eksotis dengan icon padang pasir yang tandus
membuyar tatkala nenek yang paling aku sayangi memintaku untuk membatalkan
rencana kepergianku dengan berbagai alasan, karena aku seorang perempuan yang
hendak nya tak usah pergi jauh-jauh dari keluarga, dan karena nenek yang
benar-benar menyayangiku dan ingin selalu melihatku tumbuh dewasa disampingnya.
Ku pandangi wajah nenek dan ku
berikan sedikit pengertian kepadanya bahwa aku ingin menimba ilmu agama dimana
para ulama berasal, dan aku ingin meminum air yang langsung diambil dari sumber
mata air nya. Dengan tatapan nanar, nenek tak dapat mencegah kepergianku yang
telah begitu bulat, ia hanya berpesan : "jadilah anak yang shalihah yang
selalu mendo'akan keluarga dan jangan lupa untuk selalu mendo'akan nenek karena
nenek tak tahu apakah masih akan melihat nadia kelak setelah pulang dari menimba ilmu".
Aku hanya memandang nya dengan
perasaan pilu dan hati yang tersayat- sayat. Aku akan selalu mendo'akan nenek
sampai dapat melihatku menjadi seorang perempuan shalehah kelak, kami pun
berpelukan dengan air mata yang berlinang tanpa sepatah kata terucap.
Aku memang begitu dekat dengan nenek
semenjak aku dilahirkan didunia ini, bahkan nenek yang selalu mengasuhku ketika
kedua orang tua ku sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, sejak kecil sampai
usia sekolah nenek selalu menjagaku bahkan sangat menyayangiku,dan aku selalu merasa menjadi anak yang paling
bahagia dengan kasih sayang orang tua dan nenek kakek yang begitu memperhatikan
cucu pertamanya.
Ternyata bayangan negri senja terlalu
menyilaukan penglihatanku untuk mundur dan seakan mengalahkan rasa cintaku pada
keluarga. aku tetap memilih maju demi kesuksesan dimasa mendatang.
Ku putuskan untuk meninggalkan
keluarga, sanak saudara, kampung halaman dan Negara tumpah darahku menuju negri
pengasingan demi kata ilmu yang begitu aku dambakan.
Sesaat menjelang kepergianku, kupandangi
seluruh keluarga, sanak saudara satu persatu sambil melambaikan tangan tanda
perpisahan, karena dibalik tembok besar itu entah berapa tahun lagi aku akan
melihat semuanya berkumpul kembali.
Ternyata keputusanku memberikan
spirit yang luar biasa besar pada pisikologi kejiwaan ku dalam menerima
pelajaran demi pelajaran dibangku kuliah, aku begitu bersemangat untuk
mempelajari agamaku, karena dahaga yang kurasakan tak pernah sedikitpun
terpuaskan ketika aku mencoba meminum air disumber air terbaik.
Walau bagaimanapun, akan kutunaikan
janjiku pada keluarga untuk belajar sebaik mungkin dan pulang dengan membawa
ilmu yang bermanfaat karena itulah harapanku, yaitu untuk mengabdi pada
masyarakat.
Ditengah kesibukan kuliah yang luar
biasa, selalu kusempatkan untuk menelfon keluarga dikampung sekedar menanyakan
keadaan keluarga pasca aku tinggalkan dan menjabarkan keadaanku yang begitu
bersemangat dalam belajar agar dapat segera berkumpul kembali dengan seluruh
keluarga.
Kegiatanku yang begitu padat dibangku
perkuliahan benar-benar telah menyita waktu dan memeras otak ku hingga hanya
kegiatan kuliah yang aku fikirkan demi menggapai cita-cita ku, hingga menginjak
tahun akhir, kesibukan ku bertambah dengan menulis skripsi sebagai syarat akhir
kelulusan, hari-hari ku tak pernah lepas dari buku-buku yang selalu setia
menemaniku.
Hingga suatu ketika, ibu menelfon ku
dan mengatakan bahwa nenek mengalami serangan jantung dan harus di larikan ke
icu.
Tak henti-hentinya ku panjatkan do'a
dalam linangan air mata, berita duka itu telah menyita seluruh fikiranku, aku
begitu khawatir dan ketakutan.
Satu minggu kemudian ibuku
mengabarkan bahwa nenek telah melewati masa krisis nya setelah masuk ruang icu
selama kurang lebih 5 hari, ku panjatkan syukur yang begitu dalam atas kepulihan
nenekku, karena rasa rindu yang begitu memuncak akhirnya aku menelfon
menggunaan video via skype dengan nenek ku yang berada ditanah sebrang,
kuperhatikan wajah nenek melalui kamera yang terlihat begitu pucat dan sendu,
aku tak kuasa menatap kesenduan itu, aku hanya menangis ketika nenek
menasehatiku dengan panjang lebar dan ku sadari ternyata aku begitu merindukan
nya, dan merindukan seluruh anggota keluargaku, itu yang membuat tekad ku bulat
untuk segera menyelesaikan jenjang kuliah secepat mungkin.
Dengan membaik nya kondisi nenek, aku
bisa belajar kembali menyelesaikan skripsi hingga sidang, dan mendapat nilai
yang lumayan memuaskan.
Handphone ku tiba-tiba berdering
dengan no telf yang asing, kuangkat dan ternyata terdengar suara ibu yang
menangis di sebrang sana, hening aku menunggu ibu berbicara, lima menit
kemudian ibu baru dapat mengatakan kalimat yang begitu mengiris setiap kepingan
hatiku dan merobek jantungku seketika, "nenek telah meninggal siang tadi
dan saat ini keluarga sedang mengurusi prosesi pemakaman nya".
Aku menangis pilu tak terbayang
sebelum nya, bahwa nenek yang perlahan pulih membaik kini telah terbujur kaku
tak bernyawa, ibu segera menenagkanku dan menasihatiku begitu panjang padahal
hatinya pun terluka, aku begitu merasa terpukul dengan berita meninggalnya
nenek yang paling aku sayangi.
Kutunaikan shalat ghaib dan
mendo'akan nya dalam tangis panjangku, ku ikhlaskan dan serahkan semua nya pada
sang sutradara kehidupan.
Setelah seluruh administrasi perkuliahan
ku selesai di universitas ibn thofeil maroko, kuputuskan untuk segera pulang.
Memasuki rumahku dikampung seakan
memutar memory tiga tahun silam, tepat ketika aku meninggalkan rumah menuju
pencarian ilmu yang tak berujung, rumah ini menjadi saksi betapa aku menyayangi
nenek ku yang telah tiada. Ku pandangi fhoto keluarga yang menggantung
didinding dan terbersit rasa penyesalan, telah meninggalkan nya dalam kurun
waktu yang lama dan kini aku tak akan pernah melihat wajah nya kembali, tapi
kasih sayang nya akan selalu membekas didalam hati sanubariku.
Kupinta ayah dan ibu untuk
mengantarkan ke makam nenek ku, dan disana aku berdo'a dan meminta maaf telah
meninggalkan nya, tetapi sekarang aku telah kembali sebagai anak yang akan
selalu mendo'akan seluruh keluarga termasuk nenek yang telah berpulang
menjemput syurgaNya.
Aku merasa lega
setelah menziarahi makam nenek ku dan sesuai janjiku aku ingin menjadi anak
yang shalihah yang selalu mendo'akan nenek ku dalam kehidupan meuju keabadian
nya.
Komentar
Posting Komentar